Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu keenam
Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan refleksi
perkuliahan Filsafat Ilmu hari Selasa tanggal 28 November 2017. Kurang ilmu itu
pasti. Oleh karena itu dalam mencari ilmu diringankan langkah kaki. Cerdas dahulu
baru berpiikir mencari ilmu. Hidup semakin berjuang semakin keras. Ada
isomorifs dalam filsafat. Jika pasif berhenti, akan jadi masalah.
Matematika mulai dari konkret sampai abstrak. Orang awam
mengatakan matematika konkret. Secara filsafat yang abstrak merupakan
matematika formal dan yang di bawah matematika konkret. Yang termasuk di bawah SD
dan SMP. Yang termasuk di atas mahasiswa,
aljabar kalkulus, integral. Tetapi setinggi-tinggi langit pun kalau mau
berusaha ada tangga ikhtiar perubahannya dari konkret menuju abstrak. Teorinya
ada semilyar tangga. Tapi dibagi dua juga boleh, yaitu bawah dan atas. Dibagi
tiga menjadi bawah, sedang, dan tinggi juga bisa. Kalau tangganya sesuai
kurikulum matematika SD, SMP, SMA, dan PTN. Matematika mempunyai SK dan KD yang
banyak sekali. Orang lebih suka belajar daripada mengajar karena belajar sesuai
dengan kemampuannya. Maka fislafat gunung iceberg ini berada di indonesia.
Iceberg merupakan fenomena. Gunung itu arti kiasannya orang
yang punya kemampuan tinggi yaitu profesor. Psikologinya siswa belajar itu
memperkokoh atau memperkuat, memberdayakan potensi siswa. Prof Marsigit berkata
bahwa beliau adalah fenomena bagi kita semua. Kalau kita tidak siap, belum membaca
jurnal, referensi, judulnya baru dalam pikiran dan belum ditulis, maka Prof
Marsigit menjadi monster yang menakutkan, dan setiap pertemuan adalah bencana.
Ini teori psikologi. Tetapi jika kita sudah siap, jika ditanya buku sudah siap,
maka pertemuan dengan pembimbing menjadi sesuatu yang menyenangkan. Ini cara
mengubah dari bencana menjadi barokah.
Guru matematika kalau tidak siap, matematika bisa jadi
bencana bagi siswa. Akan tetapi kalau siap menajdi sesuatu yang menyenangkan.
Kesiapan sangat penting. Aliran ide, gagasan, gagasan secara filosofis seperti
apa dapat dikaitkan dengan matematika. Kalau dahulu hanya 2 yaitu logos dan
tidak. Tidak logis adalah mitos. Mitos dapat diatasi oleh Thales, kemudian
diteruskan oleh Pythagoras. Prinsip aturan-aturan di langit. Muridnya menurut
Aristotel, Realis. Real, konkret. Maka ilmu itu yang kita jalani, temui,
hadapi, maka segala macam ilmu memuat dua unsur yaitu rasio dan pengalaman.
Rasio belum akan jalan, pengalaman masih sepotong-potong, maka belum memperoleh
ilmu. Itu adalah dalil dari Immanuel Kant.
Kurikulum dikuasai oleh ilmu murni padahal yang belajar
anak-anak SD. Maka rasio, dan sebagainya menjadi ambisi orang dewasa. Konkretnya
anak mengalami kesulitan. Bahkan validism kesalahan adalah benar. Benar karena
belum membaca. Yang salah bacanya itu. Ilmu pengetahuan dan ilmu, di langit dan
bawah itu seakan-akan terjadi di otak kita. Bukan dari genetik atau otak dari
sisi filsafat. Mengetahui metakognisinya. Jika ingin berbicara disebalik, ada
unsur bumi dan langit. Di sebalik bumi ada langit dan bumi. Disebalik langit
juga ada langit dan bumi. Inilah proses terjadinya pengetahuan, menurut Immanuel
Kant dalam bukunya the critic of pure reason. Konsep ini secara umum bisa
diterapkan dalam matematika maupun psikologi.
Orang kalau mau cerdas bingung dulu supaya ada perjuangan
dan terlihat guratan-guratan perjuangan yang nantinya bisa dibedakan antara
pejuang dan anak manja yang tak pernah berkarya, habis dimakan manusia
serigala. Kita harus punya daya kritik jika berhadapan dengan pembimbing yang
hebat. Siapkan, cari referensinya. Bukan karya ilmiah kalau bukan jurnal, maka
makanan setiap hari itu jurnal. Cari jurnal sebanyak-banyaknya karena merupakan
syarat lulus.
Tradisional dan inovatif. Kalau siswanya tidak bawa apa-apa
pasif., kalau siswanya aktif, ada interaksi. Ketika kita membuat tesis, kita
sendiri yang mengkonstruk. Analogi dengan siswa, siswanya punya inisiatif. Maka
kalau di sekolah bukan matematika formal tetapi matematika sekolah yang
konkret.
Peningkatan kualitas disertasi, anda harus selalu berpikir.
Yang membedakan metodologi disertasi sangat mendalam, ada pendekatan
fenomenologi. Memandang istri, air, boleh. Maka sebenar-benar ilmu menurut
fenomenologi akan tercapai kalau tidak punya perhatian. Anda sendiri tidak
memperhatikan jurnal, maka mungkin anda tau jurnal.
Komentar
Posting Komentar