Nilai Etik dan Estetika yang Terdapat pada Pertunjukan Seni Wayang Kulit




Description: D:\foto oppo '15\samsung '17\camera\20171130_210943.jpg

Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan nilai etik dan estetika dari pertunjukkan seni wayang kulit. Sebelumnya saya bersama teman-teman telah menyaksikan pertunjukan seni wayang kulit pada 30 November 2017 pukul 20.00 – 22.00 WIB di Museum Sonobudoyo Alun-alun Utara Yogyakarta. Pertunjukan seni wayang yang digelar di tempat tersebut terdiri dari 8 episode. Saat itu kami menyaksikan episode ke 6 yang berjudul “Kematian Prahasta”.
Secara garis besar, wayang tersebut menceritakan tentang kisah Rama dan Shinta. Namun pada episode “Kematian Prahasta” tersebut menceritakan tentang bagaimana Prahasta (orang yang dipercaya Rahwana untuk menjaga pedang saktinya, pedang Mentawa) yang terbunuh oleh Anila (orang dari pihak Rama). Dari episode ini, saya menangkap pesan bahwa orang yang kejahatan akan selalu kalah dari kebaikan.
Pada pertunjukan seni wayang kulit ini terdapat nilai estetika. Yang pertama dari wayang itu sendiri. Desain masing-masing wayang yang terbuat dari kulit tersebut berbeda-beda sesuai dengan karakter yang ditampilkan. Masing-masing karakter mempunyai ciri khasnya sendiri sehingga orang yang menyaksikan akan tahu peran siapa yang sedang dibawakan.
Selanjutnya, kedua dapat kita lihat dari tempat pertunjukannya yang didesain dengan sedemikian rupa, dengan peralatan-peralatan dan pencahayaan yang pas sehingga kita bisa dapat menikmati pertunjukannya dengan nyaman. Ketiga, terdapatnya para sinden yang menyanyi mengiringi beberapa bagian scene dari pertunjukan seni wayang tersebut. Selain sinden juga terdapat penabuh gamelan yang menambah keselarasan suasana dalam cerita.
Demikian paparan saya mengenai nilai etik dan estetika dari pertunjukan seni wayang yang saya saksikan pada bulan November lalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu keenam

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Ketujuh