Nilai Etik dan Estetika yang Terdapat pada Pertunjukan Seni Wayang Kulit

Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan nilai etik dan estetika
dari pertunjukkan seni wayang kulit. Sebelumnya saya bersama teman-teman telah
menyaksikan pertunjukan seni wayang kulit pada 30 November 2017 pukul 20.00 –
22.00 WIB di Museum Sonobudoyo Alun-alun Utara Yogyakarta. Pertunjukan seni
wayang yang digelar di tempat tersebut terdiri dari 8 episode. Saat itu kami
menyaksikan episode ke 6 yang berjudul “Kematian Prahasta”.
Secara garis besar, wayang tersebut menceritakan tentang kisah Rama dan
Shinta. Namun pada episode “Kematian Prahasta” tersebut menceritakan tentang
bagaimana Prahasta (orang yang dipercaya Rahwana untuk menjaga pedang saktinya,
pedang Mentawa) yang terbunuh oleh Anila (orang dari pihak Rama). Dari episode
ini, saya menangkap pesan bahwa orang yang kejahatan akan selalu kalah dari
kebaikan.
Pada pertunjukan seni wayang kulit ini terdapat nilai estetika. Yang pertama
dari wayang itu sendiri. Desain masing-masing wayang yang terbuat dari kulit
tersebut berbeda-beda sesuai dengan karakter yang ditampilkan. Masing-masing
karakter mempunyai ciri khasnya sendiri sehingga orang yang menyaksikan akan
tahu peran siapa yang sedang dibawakan.
Selanjutnya, kedua dapat kita lihat dari tempat pertunjukannya yang
didesain dengan sedemikian rupa, dengan peralatan-peralatan dan pencahayaan
yang pas sehingga kita bisa dapat menikmati pertunjukannya dengan nyaman.
Ketiga, terdapatnya para sinden yang menyanyi mengiringi beberapa bagian scene dari pertunjukan seni wayang
tersebut. Selain sinden juga terdapat penabuh gamelan yang menambah keselarasan
suasana dalam cerita.
Demikian paparan saya mengenai nilai etik dan estetika dari pertunjukan
seni wayang yang saya saksikan pada bulan November lalu.
Komentar
Posting Komentar