Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Kelima
Pada kesempatan kali ini saya akan merefleksikan perkuliahan
Filsafat Ilmu pada hari Selasa tanggal 24 Oktober 2017 yang diawali dengan tes jawab singkat.
Berikut adalah pertanyaan dan jawabannya:
1. Kapan? Belum tentu ketika
2. Bagaimana? Mengada
3. Mengapa? Terpilih
4. Untuk apa? Pengada
5. Siapa? Subjek/ Objek
6. Di mana? Belum tentu di sini
7. Kemana? Ke perbatasan
8. Dengan siapa? Dengan sifat
9. Berapa? Kuantitatif/ kuantitas
10. Apa
kabar? Fondamen
11. Hello?
Fondamen
12. Yang
terhormati. Intensi
13. Hadirin
dan hadirat. Intensi
14. Marilah...
Determine
15. Hendaknya.
Determine
16. Kita
dapat saling menjaga. Hermeneutika
17. Saling
menghormati. Hermeneutika
18. Barangsiapa.
Aturan
19. Benar
adalah benar. Identitas
20. Salah
adalah salah. Identitas
21. Manusia
adalah umat. Objek
22. Umat.
Predikat
23. Oleh
karena itu. Koheren/ koherensi
24. Sebenar-benarnya.
Absolute
25. Harus.
Determine
Setelah
pertanyaan selesai, kemudian dibahas satu per satu jawabannya. Kapan?
Jawabannya adalah belum tentu ketika. Hal ini dikarenakan ketika kamu datang, belum
dimulai. Jadi kapan dimulai? belum tentu ketika kamu datang. Hal ini merupakan
matematika, artinya cabang mulai dari orang awam jawabannya ditarik ke atas
menjadi universal, dan berlaku untuk kegiatan apapun dan kejadian apapun.
Sekarang besok belum tentu.
Untuk apa, ungkapan filsafatnya pengada. Adanya ilmu itu
karena ada perbatasan. Hidup itu intensi, kalau kita tidak punya perhatian
tertentu maka bahaya. Karena kita tidak tau perhatiannya kemana. Maka harus
punya intensi. Orang tidak bisa intensi kalau tidak bisa milih. Sebenar-benar
orang cerdas jika bisa mengambil sikap.
Hadirin dan hadirat itu mencari perhatian maka filsafatnya
adalah intensi. Yang ajak-ajak itu namanya determine seperti hendaknya. Saling
menjaga dan menghormati merupakan hermeneutika. Benar adalah benar, salah
adalah salah merupakan identitas. Benar adalah benar itu tidak ada di dunia ini
karena cuma ada dalam cita-cita.
Demokrasi itu tidak objektif. Sementara filsafat itu
objektif. Segala macam ilmu itu kalah dengan politik. Filsafat itu mencari yang
universal. Karena filsafat itu pikiran para dewa. Maka yang bisa merangkum
kemarin, sekarang, dan besok itu adalah filsafat. Bagaimana secara psikologi
itu proses. Orang awam menjadi tindakan. Kalau filsafat dinaikkan jadi mengada.
Ada menjadi pengada karena manusia berproses.
Mengapa kita berbicara? Karena terpilih. Mengapa tidak
hadir? Karena terpilih. Untuk apa? Objek itu dipilih sementara subjeknya yang
memilih. Hermeneutika itu kalau dalam bahasa jawa adalah cokro manggilingan.
Hidup itu bergerak maju dan berputar-putar. Saling menerjemahkan. Yang
diterjemahkan itu yang ada dan yang mungkin ada. Dari batu, tumbuhan, manusia
dan sebagainya tidak mungkin hidup kalau tidak ada yang saling menerjemahkan.
Maka terjadilah hermeneutika kehidupan. Maka sebenar-benar hidup itu adalah
hermeneutika. Kita sudah mati itu pun masih diterjemahkan.
Komentar
Posting Komentar